Pelajaran

Aku ingin mencoba untuk menuliskan segelitir tentang kisahku dalam selembar kertas putih. Ah tidak, ternyata aku hanya mengotori kertas putih ini. Begitu kotor kah kisah hidupku sehingga aku sendiri sulit untuk menuliskannya dalam kertas ini. Sepertinya tidak, aku tak terlalu kotor, tidak seperti para penjabat yang selalu merasa paling benar dan selalu merasa bersih, padahal korupsinya dimana-mana bahkan simpanannya ada dimana-mana. Kedengarannya sangat menjijikan tapi aku juga tidak kalah menjijikannya dengan mereka. Hahaha, salah! Aku masih kalah dari mereka.

Sekarang sudah bulan sebelas, ternyata hampir tujuh bulan sudah aku ditinggal pergi oleh dia, Si Cinta Situasional. Huh, kenapa aku menyebutnya Si Cinta Situasional? Cinta yang hanya mau bertahan atas nama kebahagiaan diri sendiri tanpa perduli dengan perasaan perempuan yang katanya sangat ia cintai. Bullshit!!! What the fuck!!! Go to HELL!!

KIni aku sudah bisa terbiasa bernafas tanpanya. Aku sudah bisa menerima semua keinginannya. Kadang aku suka teringat olehnya saat beberapa lagu dipendengarkan di telingaku. Ya, lagu-lagu yang dulu membawa kami pada kebahagiaan semu. Tapi entah kenapa rasa sakit itu masih ada, rasa sakit yang ia tinggalkan saat aku jatuh sejatuh-jatuhnya dan dia pergi tanpa mengulurkan tangannya sedikitpun. Menyedihkan…

Pas sekali, saat aku menulis paragraf ini Cinta Terlarang by Virgin termainkan di Windows Media Playerku. Bait terakhir membuatku merinding, Aku ingin bersama dia untuk selamanya, ohuooo… Hmm tidak, kalaupun aku bisa kembali kepadanya, aku dan dia takkan pernah mau, rasa sakit ini takkan pernah hilang. Semua takkan kembali seperti dulu. Aku tidak pernah menyalahkan cintanya dahulu yang katanya tulus, aku tidak menyalahkan apapun. Aku hanya menyesalkan dirinya yang mengatasnamakan cinta yang tulus untuk meninggalkanku.

Tetapi inilah hidupku, aku dan dia dipertemukan karena Yang Mahakuasa dan kami juga dipisahkan karena-Nya. Mungkin ini yang terbaik untuk kami berdua. Inilah kebahagiaan yang ia minta. Kebahagiaan yang ia inginkan tanpa mengajakku ada dalam kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang notabene ia inginkan selama ini.
Tapi sepertinya kini ia bahagia dengan kehidupannya sekarang. Walaupun pagiku kini tak seindah biasa saat aku menerima sms darinya tetapi kini aku bisa terbiasa dengan kata kehilangan. Terlalu ikhlas menerima apa pun kini, aku terlalu naïf untuk mengakui bahwa aku takut kehilangan. Sekarang aku berani mengatakan, Aku tidak takut kehilangan apa pun.

Aku sudah terbiasa dengan semua kebiasaan burukku, kebiasaan yang dahulu serasa sangat tabu untukku tapi sekarang aku justru hidup dengan kebiasaan ini. Ternyata inilah diriku, diriku yang semakin aku mengerti, diriku yang semakin kuat dalam kehancuran.

Ya Allah, terima kasih atas semuanya, jagalah orang-orang yang aku cintai. Berikanlah mereka rahmat dan karunia-Mu selalu.

Sekedar Renungan Sore

Aku ingin berbagi kisahku sejenak, mencoba merasakan apa yang selama ini hilang, dan mencoba menyadari bahwa hidup ini begitu indah.

Kini usiaku 19 tahun 11 bulan. Tinggal menghitung detik-detik dimana aku menginjak kepala 2. Angka dimana aku benar-benar memiliki fisik seorang wanita dewasa, apa hanya fisik yang menjadi dewasa? Bagaimana dengan psikisku? Apa ia juga ikut menjadi dewasa? Kini aku bisa menjawabnya, psikisku sudah mendewasakan diri sebelum aku menginjak usia 20 tahun.

Pada hari ini, Selasa, 3 November 2009, 16:21, aku mulai menulis kisah ini. Mungkin kisah yang sangat pendek tapi aku harap dapat bermakna bagi kalian yang membacanya.

Aku tidak pernah membayangkan akan mendapat kehidupan yang begitu indah ini. Tidak semua hal dalam hidup ini merupakan pilihan. Dan aku kini menjadi seorang anak piatu, ini adalah sebuah takdir kehidupan bukan suatu pilihan.

Rabu, 3 Juni 2009, sepulang kuliah aku mememinta ditemani Feby-teman sekelasku pergi ke Bintaro Plaza. Aku sempat mencoba anting-anting yang terpampang di sana sehingga aku harus melepaskan anting yang aku kenakan yaitu anting kado ulang tahunku yang ke-18 dari mama. Tanpa sengaja aku menjatuhkan penyanggah anting yang kiri saat aku mencopotnya, aku langsung teringat dengan pesan mama, “Mbak, penyangga antingnya jangan sampai hilang ya…” Aneh, mama hanya mengkhawatirkan penyanggahnya saja. Aku mencari-cari tetapi tetap tidak kutemukan. Akhirnya, kami pulang ke kos dengan membawa anting baru dan menghilangkan penyanggah anting lamaku. Aku sedih dan amat merasa bersalah pada mama, aku telah mengecewakannya.

Pada jam 9 malam, aku mendapat sms dari mama, beliau mengatakan keadaanya sudah lebih baik dan besok jam 9 pagi akan periksa lagi ke rumah sakit karena 3 hari yang lalu mama mengeluh kedua kakinya pegal-pegal dan tak pulih dengan cepat. Aku lupa apa aku membalas sms dari beliau atau tidak.
Malam semakin larut dan aku menyadari bahwa hari sudah berganti, aku semakin resah, gelisah, dan lemas. Aku mencoba tidur dan terakhir aku melihat jam 00.58 lalu terlelap.

Pukul 03.30 aku terbangun, mendapati sms dari kakak sepupuku (laki-laki) yang meminta alamat kosku. Aku kaget bercampur ngeri, takut dia macam-macam denganku (wajar sekali seorang perempuan seperti ini karena dia tidak biasanya sms aku). Lalu ia berkali-kali mencoba menelponku, aku semakin takut. Aku mengobati ketakutanku dengan menelpon mama, tetapi adikku yang mengangkat. Adikku hanya mengatakan, “Mbak, cepet ke sini,” Lalu tiba-tiba Ellen menutup teleponku. Aku semakin penasaran dan mengirimi sms ke nomor mama, “Kenapa sih, Len? Mbakk jadi khawatir nih.” Ellen langsung membalas, “Mama sakit.” Aku baru berani mengangkat telepon dari kakak sepupuku itu dan menjelaskan rute ke kosku.

Aku mencoba menelpon Teguh, tapi sepertinya ia lelah karena terlalu banyak belajar untuk UAS besok pagi. Aku sms Supri-ketua kelasku dan mencoba mengutarakan kegundahanku. Aku menunggu kakak sepupuku datang dan akhirnya ia sms mengatakan bahwa ia sedang menunggu di Gereja PJMI. Dini hari aku berjalan menyusuri Kalimongso, Kalimongso begitu sepi, aku hanya berpikir mama terbaring di rumah sakit dan menginginkanku sebagai anak pertamanya untuk mendampinginya selama perawatannya.
Lalu aku melihat dua orang kakak sepupuku mengenakan baju serba hitam. Masing-masing dari mereka mengendarai motor, aku tidak menyadari apa pun saat itu. Aku hanya mengikuti apa yang mereka katakan saja. Aku naik di belakang kakak sepupuku yang tadi menelponku.

Mereka mengendarai motor agak kencang, semakin dekat, semakin dekat, dan semakin dekat lagi sampai di rumahku.

Lalu . . .

Di hari yang masih gelap, di depan gang rumahku terpampang bendera kuning, bendera yang melambangkan seorang manusia telah dipanggil oleh Sang Pencipta, bendera yang melambangkan bahwa kita takkan pernah melihat ia lagi di dunia ini, bendera kematian.

Aku tak berpikir apa pun, aku bertanya dalam hati siapakah yang meninggal? Tak lama lalu aku diturunkan di depan rumah tanteku yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahku. Saat itu kenapa ada banyak keluargaku, suasana begitu hening, terasa begitu aneh.

Aku mencopot helmku, lalu bibiku menyambutku dengan kata-kata yang tidak pernah kuharapkan sama sekali,

“Sabar ya, Des. Yang tabah ya…”

Aku memasuki ruang tamu dan melihat seseorang telah terbujur kaku, tubuhnya berselimutkan kain batik, dan wajahnya berselimutkan kerudung transparan. Papaku memelukku dan mengatakan, “Mbak, mama sudah nggak ada.” Aku lemas mendapati semua itu, air mata langsung mengalir, dan aku tak bisa melakukan apa pun, hanya memeluk papa sambil menyadari bahwa adikku sudah berlinang air mata berada di samping mamaku.

Kini aku tidak dapat lagi mendapat sms dari mama yang selalu menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, aku juga tidak sedekat dulu dengan papaku. Miris rasanya apabila harus memikirkan hal ini. Aku, adikku, dan ayahku, kami mulai disibukkan dengan urusan masing-masing. Dan mama, aku hanya bisa menatap ke langit-langit kamar, sambil berdialog sendiri dalam hati, mengirimi beliau beberapa doa yang bisa aku ucapkan. Mama, aku hanya tahu aku begitu meridukanmu tapi apa daya aku tak kuasa untuk memelukmu kini.

Aku dan adikku mendadak harus menjadi seorang wanita dewasa. Kami yang terbiasa selalu menggantungkan diri kepada papa dan mama, kini hanya bisa menguatkan kedua kaki kami, untuk mencoba berdiri sempurna tanpa berpegangan pada siapa pun.

Kalau semua sudah seperti ini, hanya mereka yang pernah mengalami hal yang sama yang akan mengerti, sementara yang lain hanya tahu, sekedar tahu. Aku tetap bersyukur dengan apa yang telah terjadi padaku. Aku masih memiliki orang-orang yang menyayangiku, papa, adikku, sahabatku, temanku, dan seseorang yang kini selalu menemaniku dan mengajariku bagaimana mencintai seseorang dengan tulus. Aku adalah seorang wanita yang kuat.

Terima kasih kawan, telah menemaniku dan selalu mendukungku. Kalian, jagalah orang tua kalian dengan baik. Jangan membuat mereka kecewa. Lakukanlah yang terbaik selama mereka masih ada. Hanya itu yang bisa aku pesankan. Aku merasakan kehilangan ini tanpa sempat meminta maaf kepada beliau akan semua salahku selama ini.

Mama, I LOVE YOU.