My dearest boy

Aku tipe seorang ibu yang jarang bercerita tentang anaknya
Padahal aku paham bahwa anakku memiliki kecerdasan di atas rata-rata anak seusianya

Lalu pagi ini aku sempatkan bercerita tentang anakku ke salah seorang teman
Menunjukkan video anakku yang sedang menyapu
Ia berkomentar seakan anakku malah sedang memukul kecoak

Rasanya kecewa sudah bercerita kepadanya
Mungkin lain kali aku tak perlu bercerita tentang anakku kepadanya.

(My dearest boy, Syazwan 2 tahun 3 bulan)

Video

mendung

Aku mencintaimu
Dengan sepenuh hati yang aku miliki
Dengan segenap impian yang aku bangun
Dengan berbagai kebahagiaan yang aku rasakan

Lalu saat kau mengatakan kau harus pergi
Aku berpikir
Sepertinya aku dapat melihat mata kakiku jika kau adalah kolam air
Betapa dangkalnya dirimu

Perlahan impianku runtuh
Kebahagianku kau serap
Kau ubah menjadi awan gelap
Hanya mendung
Yang tak kunjung hujan

Lalu di akhir bulan Juli
Akhirnya Tuhan menurunkan tetes tetes air
Yang menandakan bahwa
Kiranya aku tak merindukan hujan di bulan Juli (lagi)
Karena Tuhan tahu kemarau akan terus melanda dirimu

Photo

Tentang Orang-orang Naif

Tentang Orang-orang Naif

Membiasakan diri atas kehilangan itu sulit
Tapi saat kau sadar kau ditinggalkan oleh orang yang naif,
Kau akan sedikit lega

Bagiku, orang yang berusaha membatasi diri untuk mencinta adalah salah satu ciri orang yang naif
Apalagi mereka kerap mencari alasan untuk meninggalkan orang yang katanya dulunya ia cintai,
demi hal lain yang katanya lagi secara logika lebih penting

Dan kini aku paham bahwa mereka orang-orang naif tidak meletakan cinta pada level teratas dalam pencapaian kebahagiaan hidup
Dan orang-orang naif kerap mengesampingkan cinta demi ketakutannya menghadapi kenyataan pahit

Dan Tuhan,
Aku mungkin tidak pernah tahu apa yang ingin aku minta
Tapi kali ini aku mohon lindungilah aku dari mereka orang-orang yang naif

Photo

Epilog

Tak butuh waktu yang lama
saat aku memperkirakan apa yang nantinya terjadi dengan kami
semesta menjawab dengan sangat mudah
seperti apa yang pernah aku katakan

rasanya masih ada banyak kekhawatiran yang menyelimutiku
karena aku belum merelakan apa yang semestinya terjadi
tapi apa daya aku tak bisa melakukan apa-apa
aku hanya bisa pasrah dengan keadaan
banyak-banyak berepilog
“ya sudahlah…”
“ya sudahlah…”
“ya sudahlah…”

memang waktu menyudahi semuanya
tapi kau tahu
aku telah lama kehilangan sang jiwa
beruntunglah aku, masih disisakan sang hati
yang membuatku akan lebih lama
menyudahinya

aku tak berharap kau menanggapi apa yang aku rasakan
dengan rasa kasihan
hanya karena tulisan yang penuh dengan kesedihan
karena rasa kasihan hanya mengotori apa yang aku rasakan

Photo

Setulusnya

Setelah berada kurang lebih empat tahun di kantorku
Sudah banyak hal yang berubah
Yang pada mulanya aku membenci berada di sana
Perlahan terbiasa dengan kebencianku
Lalu mulai menemukan banyak hal baik, termasuk teman-teman terbaik

Di tahun kedua
Salah satu teman baikku pindah
Lalu disusul teman lain
Lalu yang lain
Lalu Tuhan pun memanggil salah satu dari mereka untuk berada dirangkulan-Nya

Tidak terlalu sulit beradaptasi atas perpisahan-perpisahan itu
Aku menerima itu semua dengan pasrah, tanpa harapan suatu saat akan bertemu mereka lagi

Lalu uniknya
Malam ini aku termenung

Di tahun keempat
Ada beberapa teman yang pindah
Dan kali ini, aku bersedih
Karena empat dari mereka adalah teman-teman baik, yang akan aku rindukan keberadaannya

Aku tak bisa membahas mereka satu per satu
Karena sulit menjabarkan betapa banyak bahagia dan tawa yang dibawa mereka untukku

Doaku untuk mereka adalah
agar mereka senantiasa
Diberikan segala kemudahan
Diberikan nikmat sehat
Diberikan limpahan rizki
Diberikan keberkahan atas segala yang mereka terima
Diberikan kesempatan untuk memaksimalkan kinerja mereka
Diberikan teman-teman yang senantiasa mengindahkan keberadaan mereka

Mungkin setelah ini tak ada lagi yang menyapaku “Dek Bintang”
Tidak ada lagi yang mengatakan aku bak “Bidadari”
Tidak ada lagi yang mememuji parasku tiap kali berpapasan di depan mesin absen
Tidak ada lagi yang menawarkanku untuk sarapan bersama, membawakanku segala macam obat saat aku sakit, mencari-cari aku jika tak berada di tempat

Aku sangat kehilangan kalian
Semoga suatu saat nanti kita dipertemukan kembali dengan keadaan yang lebih baik lagi
Terima kasih atas semua kenangan manis kalian

Setulusnya,
Desi Diarnitha, 2:37 – 16 Juli 2015

Photo

Tentang Tempe

Tentang Tempe

Tempe bukan lauk kesukaanku
Tapi saat aku melihat tempe banyak yang terkenang di memoriku
Aku teringat ibuku, aku teringat masa kecilku,
Aku teringat kamu

Tempe banyak jenisnya
Harganya pun berbeda-beda
Namun saat kita lapar,
Semua tempe mungkin akan terasa sama

Aku mau kau tahu
Bahwa banyak yang aku lakukan untuknya tapi ia tak pernah menghargaiku
Aku tahu kini apa penyebabnya
Mungkin karena aku tak pernah melakukan apa pun untuknya dengan sepenuh hati

Mungkin berbeda dengan tempe yang katanya akan kau masak untukku
Aku tahu walau tempe bukan makanan kesukaanku
Aku akan menunggunya matang dengan sabar
Menyaksikan kamu memasaknya dengan penuh senyuman
Melahapnya bak aku yang tak pernah kenyang
Menikmati kebersamaan sederhana kita dengan penuh kebahagiaan

Karena aku tahu, hatiku penuh rasa

Rasa yang tak pernah aku ragukan keberadaannya

Photo

Lebah Madu dalam Impian

Suatu malam sendu, dirasakan oleh Madu dirinya sangat lelah. Mungkin sudah saatnya Madu untuk memejamkan mata, rehat dari segala aktifitas yang menguras tenaga, hati, dan pikiran. Beberapa saat mencoba tidur, lalu Sang Madu terlelap.

Betapa lelap tidur Sang Madu dan Tuhan kali itu mengizinkannya untuk menemui bunga dalam gelapnya malam. Entah apa itu hadiah dari Tuhan untuk Madu atau justru sebaliknya.

Dalam bunga tidurnya, Sang Madu beraktifitas seperti biasa. Hanya sekedar untuk mengisi waktu luang, ia bekerja membanting tulang. Betapa luar biasa dedikasi Sang Madu untuk pekerjaannya, padahal bahwasanya ia tak butuh-butuh amat dengan uang.

Dan saat ia berjalan berkeliling, Sang Madu mendapati Sang Lebah. Saat itu Lebah sedang asik dengan suatu benda kotak berukuran kecil yang bisa memuaskan kesendirian manusia. Padahal zaman dahulu, betapa membosankannya tanpa adanya manusia lain. Sayang, zaman sudah berubah. Ada manusia lain di samping kita pun, kita justru mengabaikan, kita asik dengan benda kotak nan canggih itu. Sudahlah, memang zaman sudah edan!

Yang disimpulkan Madu saat melihat Lebah adalah sepertinya Lebah sedang asik bercengkrama melalui benda kotak itu. Wajah Lebah sumringah bukan main. Seakan-akan Lebah kembali jatuh cinta.

Madu tak kuasa menahan amarahnya. Ia tanpa sadar menghardik Lebah dengan banyak tuduhan. Madu menuduh Lebah sedang main gila dengan madu lainnya!

Lebah terperangah. Ia kaget, lalu ia kecewa. Apa dasar Madu menuduhnya begitu keji. Betapa hancur hati Lebah saat itu.

Dan pada akhirnya saat Lebah berkesempatan untuk membela diri, ia menunjukkan isi benda kotak itu. Ternyata Lebah sedang mempersiapkan hadiah kejutan untuk Madu. Namun karena sikap Madu yang begitu kasar, semua kejutan itu Lebah kubur dalam-dalam.

Lalu Madu terbangun dari bunga tidurnya. Menyadari bahwa ada banyak hal yang kembali hilang dari hatinya, hilang dari hidupnya. Membuat Madu merindukan apa-apa yang hilang, membuat Madu tersadar betapa cinta yang berlebih adalah menyakitkan.

Photo

Aku harap

Mau banyak bercakap.

Aku harap kartu kreditku diapply sebelum Juli berakhir.

Aku harap di kampungnya sinyal provider nomorku sudah stabil.

Aku harap lebahku tetap mengingatku, walau akhirnya semua berubah.

Aku harap aku bisa membeli HP impian.

Aku harap setelah aku memotong rambut, rambut ikalku kembali.

Aku harap aku mahir menyetir bulan ini.

Aku harap gigi bawahku bisa pakai behel bulan depan.

Aku harap warna kulit tanganku sama seperti warna kulit kakiku.

Aku harap kalaupun aku dimutasi, aku tetap sekantor dengan sahabatku.

Aku harap aku bisa sembuh dari semua penyakitku.

Aku harap suamiku jadi tempat curhatku yang baik.

(Bersambung….)

Photo