Sahabatku

Salah satu sahabatku yang tidak mau disebut dirinya sebagai sahabatku bercerita
Awalnya aku bingung, aku curiga sepertinya sahabatku ini sedang labil,
Tapi setelah 9 tahun peristiwa itu berlalu
Aku paham, saat itu dia sedang tidak labil, dia konsisten hingga saat ini

Dia selalu saja menolak setiap kali aku menyebutnya sebagai ‘sahabatku’
Karena ia khawatir aku akan menyakitinya seperti sahabatnya dahulu
Saat mereka sedang berselisih paham, sahabatnya sering sekali berkata kasar
Tak jarang Si Sahabatnya ini menyuruhnya untuk pergi jauh dari hidupnya
Ditambah lagi Si Sahabatnya ini sering mengatakan persahabatan mereka telah usai
Dan sekarang aku dan sahabatku ini tetap berteman baik, dan sahabatku dengan sahabatnya yang dulu itu sudah tidak berkomunikasi dalam jangka waktu yang lama

Sepele…
Cerita yang pada awalnya aku tidak paham maknanya.

Namun sekarang, aku paham
Persahabatan itu layaknya bukan sebatas kata
Bukan sekedar emosi tak terbendung lalu berkesudahan
Persahabatan itu bukan dengan tekanan
Seharusnya persahabatan itu memahami satu sama lain
Ada saatnya menjadi pendengar, ada saatnya menjadi penasehat yang baik, selalu menjadi kepercayaan
Bukan hanya selalu egosentris
Apa-apa harus didengar, apa-apa harus dituruti
Persahabatan itu melengkapi
Peran apa yang tidak ada, cepat dan tanggap  menggambil andil
Jika persahabatan sudah dipenuhi hal-hal di atas, persahabatan akan selalu membuat nyaman semua pihak, membahagiakan dan menyenangkan

Beberapa langkah lagi sahabatku akan menemukan sosok yang selama ini diinanti-nantikannya
Dalam setiap doaku selalu kusebut agar kamu selalu berbahagia

Photo

Mas Pur

Mas Pur…

Well, udah beberapa kali terakhir gw banyak ngobrol sama Mas Pur.
Mas Pur, dari caranya bicara, gw yakin dia orang jujur, hatinya bersih, polos banget.
Banyak cerita, tentang pengalaman dia kerja, tentang keluarganya, bagaimana dia bertahan hidup di Jakarta, apa aja yang udah dia berikan buat keluarganya.

Sebenarnya dia langganan gw waktu rumah gw masih di Pejaten Timur, dan setelah gw pindah ke Condet, gw tetap masih sering ke Mas Pur.
Setelah gw pindah kantor 1.5 bulan ini, gw udah ga pernah lagi ke tokonya.
Biasanya kalau gw mau datang, gw kirim SMS dulu ke dia, dan Mas Pur selalu respon SMS gw.

Seminggu yang lalu, gw SMS Mas Pur.
Nanya apa tokonya udah buka apa belum.
Beberapa kali terakhir gw lewat, emang tutup sih.
Takutnya dia pulang kampung.
Karena dia sempat cerita kalau mau pulang waktunya ga pasti, sekepinginnya aja.
Terus seharian SMS gw belum dibalas juga.
Ya udah, gw tetap ke sana.

Sampai di sana, gw rada kaget, kok tokonya udah agak dirombak, biasanya itu tokonya cuma diskat, di bagian belakang mesin dikasih triplek, agar ada ruang buat tempat tidur dia sama TV. Sekarang tripleknya dicopot.
Dan gw gak lihat Mas Pur di situ, cuma ada Mas-mas muda 2 orang.

“Mas Pur, kemana ya?”
“Udah ganti orang, Mbak.”
Karena kegok dan campur gak enak, ya udah gw kasih 2 helai pakaian buat divermak.
Padahal yang mau divermak 6 helai.
Khawatir gak memuaskan kerja orang baru ini.

Gw ambil hari besoknya itu pakaian yang divermak. Tanpa nanya-nanya karena gw lihat sorot mata itu tukang vermak baru lagi kurang bagus. (Gw rada lumayan dalam meng-analisis emosi manusia)

Ah, gw kirim SMS lagi aja ke Mas Pur, “Mas Pur, barusan saya ke toko vermaknya Mas Pur kok sekarang udah ganti orang? Mas Pur pindah ke mana?”

Dan, ga dibalas lagi sodara-sodara….

Terus gw cuma bertanya-tanya sendiri…nyimpulin sendiri.

“Perasaan gw, kemarin Mas Pur bilang kalau ngerenov rumahnya di kampung nyicil, satu per satu ruangan, apa udah selesai terus sekarang dia kerja di kampung?”

“Apa dia jadi karyawan orang ya? Dulu dia sempet kerja ikut orang.”

“Mungkin udah pindah ya karena sewa tokonya mahal. Ke tempat yang lebih murah tapi rame.”

“Apa ribut sama konsumen ya..”

“Jangan-jangan kelilit hutang sama orang terus kabur tanpa jejak.”

OMG, serius pake banget, gw bingung campur kesel campur sedih.

Karena emang hobi gw belanja baju online dan sering ga pas ukurannya, jadi gw butuh banget jasa dia.
Gw bukan tipe yang suka belanja di swalayan, nyobain itu satu-satu baju.
Males banget gw ke mall kalau cuma buat nyari baju. Apalagi pake minta anter orang.
Mending gw wisata kuliner, dapet hal baru buat direkomendasiin ke orang plus perut kenyang.

Dan ini kedua kalinya gw kehilangan tukang jahit gw.
Tukang jahit yang sebelumnya emang rada kurang baik, celana baru banget belum pernah gw pake, ikutan kebawa dia karena dia kabur ga mau bayar sewa tokonya. Dan banyak komplain lain dari para korban sependeritaan.

Lalu gw balik lagi ke Toko Jahit Mas Pur dengan menemui Mas-mas muda itu.
“Mas, ngecilin ini bisa?”
“Bisa tapi ambil besok sore ya?”
“No. HP ada Mas biar bisa ngabarin saya kalau sudah kelar.”
“Oh ya udah, no Mbak aja saya misscall.”
“Nama Mas siapa?
“Jamal.”
“Mbak siapa?”
“Desi.”

Dua hari kemudian gw baru ambil.

“Sampean keponakannya Mas Pur opo?”
“Nggak Mbak, tapi emang kata orang mirip.”
“Terus sampean kenal Mas Pur di mana?”
“Ya namanya tukang jahit, kenal-kenal gitu aja.”
“Mas Pur, sakit?”
“Ya katanya masuk angin, Mbak. Angin duduk kata orang.”
“Terus Mas Pur? Udah meninggal?”
(Jamal mengangguk)

Jawaban terakhir gw reflek karena ingat angin duduk menjadi penyebab beberapa kematian.
Gw sedih banget dan masih berkabung sampai sekarang.
Masih terekam jelas tiap kali gw turun dari motor sampai di depan tokonya, dia senyum sumringah.
Besar banget harapan dia biar anaknya kelak bisa kuliah kayak gw, di tempat yang ga menguras banyak biaya dan langsung dapat kerja tanpa repot melamar ke sana-sini.
Banyak pelajaran yang gw dapat dari Mas Pur Dia yang gak pernah kenal dengan sosok ayahnya tetap selalu sabar, lalu sanggup berjauhan dengan istri dan anaknya demi mencari nafkah. Gw juga belajar dari dia berapa pun penghasilan yang kita terima, kita wajib bersyukur.

Innalillahi wa innaillaihi roji’un,
Semoga almarhum Mas Pur khusnul khotimah, diampuni dosanya dan semua amal ibadahnya diterima Allah, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran serta ketabahan. Aamiin.

Photo

End Of Comfort Zone

Entah butuh waktu berapa lama untuk menepis kesedihan
Nyatanya aku memang mulai jenuh di kantor lamaku
Lalu Tuhan mengabulkan doaku
Aku dipindahtugaskan ke kantor lain
Aku berharap tidak ada air mata
Namun ternyata aku tidak bisa membohongi diriku sendiri
Aku mulai sadar
Terlalu banyak kenyamanan yang akan aku tinggalkan
Rekan-rekan sejawat yang ramah-ramah
Tenaga honorer yang baik-baik
Mejaku yang penuh dengan barang kebutuhanku
Ruang laktasi hadiah dari bos besarku dulu
Semua kebaikan yang terkandung di dalamnya

Di kantor baruku
Aku tidak akan bisa memakai helm mulai turun dari motor sampai ke toilet wanita
Wastafel toiletnya kecil, mungkin kosmetiku saja tidak cukup
Mungkin aku belum bisa bawa bekal makan ke kantor
Khawatir aku belum dapat meja kerja pribadi
Aku juga tidak bisa pakai ranselku yang super besar, karena setelah ini aku akan jadi pelanggan setia commuterline

Tuhan,
Apa dengan keluar dari zona nyaman akan meningkatkan kualitas dari diriku?
Aku berharap masa adaptasi selama 3 bulan ke depan akan lancar dan menyenangkan
Aku yakin, saat kita kehilangan sesuatu yang baik, kita akan mendapat hal yang jauh lebih baik lagi

Photo

Bahagia

Ini sebuah kisah tentang seorang pria
Yang banyak dalam diamnya, berdoa
Yang banyak dalam sepinya, menikmati kehidupannya
Yang dalam lamunannya, mulai terlintas seorang wanita

Seorang wanita yang akan ikut mewarnai kanvas yang ia punya
Karena tanpa sadar, mereka melukis kanvas bersama, yang nantinya kan menghasilkan sebuah fenomena

Hubungan mereka sangat istimewa tapi tak berdefinisi
Lalu saat sang nalar mulai tidak berfungsi
Sang pria mulai mencoba melakukan hal-hal di luar kendali

Sang pria yang dengan mudah menaklukan wanita
Padahal sang pria ini hanya bermodal adanya apa

Ia mulai terlepas dari lajurnya
Bertingkah bak anak sekolah menengah yang baru jatuh cinta
Menuliskan puisi, menciptakan lagu, membawakan cokelat,
dan akhirnya ia sanggup membelikan sebuah cincin untuk sang wanita

Mencintai itu seharusnya membawa kebahagiaan, bukan?

Kamu bahagia?

Bahagia.

Photo

Live, Laugh, Love

Aku tidak peduli berapa usiamu sekarang
Entah kau orang muda atau bukan
Tidak peduli siapa yang berada di belakangmu sekarang
Tidak peduli apa kamu juga bermimpi hal sama sepertiku

Mungkin semua orang berpikir
Setiap yang aku tulis adalah
Sebuah kisah nyata
Yang benar-benar aku alami
Dan mungkin karena ini banyak orang tertawa

Lagi lagi aku tidak peduli
Ya, aku berbeda
Dan aku menertawakan kalian
Karena kalian sama

Sudah berbagai cara agar aku bisa terbiasa
Dengan tawa mereka
Lalu aku terbiasa

Namun saat aku tertawa
Aku memikirkan kamu

Aku ingin berhenti
Lagi lagi aku ragu
Sepertinya belum juga mampu

Aku ingin pergi sejauh mungkin, membuang semua
Walau akhirnya aku harus merelakan
Apa yang selama ini aku cintai dalam diamnya kehidupan

Photo

English

Saat aku masih duduk di bangku kelas dua SMP
dengan seragam putih-biru,
dengan jabatan lumayan penting yaitu sebagai ketua kelas,
yang tiap kali memberi salam atau memimpin doa dengan suara mirip “kambing tercekik”.
Namun jangan salah, kelasku kerap menjadi kelas dengan predikat kelas yang paling disiplin.

Waktu itu adalah jam pelajaran Bahasa Inggris.
Guru kami agak unik, kita sebut saja Pak Nas.
Hobi Pak Nas adalah berkeliling kelas, menanyakan sesuatu hal dalam Bahasa Inggris kepada muridnya satu per satu, sambil membawa penggaris kayu panjang yang sebenarnya berfungsi untuk membuat garis di papan tulis.

Aku akui bahwa aku sangat lemah dalam berbahasa Inggris, namun karena aku kerap juara umum, modal percaya diriku tinggi.
Dan tibalah Pak Nas di mejaku.
Ia bertanya ke teman semejaku, bla bla bla..
Teman semejaku bebas tanpa pukulan penggaris kayu itu dengan mudah.
Mungkin karena ia termasuk murid terpandai dalam Bahasa Inggris, pelbagai kursus ia ikuti dengan biaya yang tersedia dari orang tuanya.
Sementara aku mulai gugup, karena resiko jika aku salah menjawab, tanganku atau betisku bisa kena pukul.
Sakit sih tidak masalah, namun malunya itu, duuuhhh jangan sampai…

Pak Nas bertanya, “How was your holiday?”

“I go to school by bus.” Betapa bodohnya aku menjawab seperti itu. Oh God, kenapa cuma ada kalimat itu di kepalaku. Mana ga nyambung lagi.

Pak Nas, “Very good.”

Aku terdiam dan bingung, ternyata Tuhan menyelamatkan orang-orang yang perlu diselamatkan. 😂

Selamat beraktifitas kembali…

Photo

Teman dunia maya

ada seorang teman di dunia maya
belakangan aku sempat memperhatikannya
karena namanya kerap muncul pada notifikasiku yang tergolong sepi 😂
kami berteman facebook
saling mengikuti akun instagram
dan ternyata alamamater kami sama ketika kuliah

baik, begini ceritanya
sebagian besar artikel hasil kiriman ulangku di facebook, ia juga sukai
saat aku berkomentar aneh pun ia sukai
sebagian besar foto yang aku unggah di instagram, ia memiliki andil menyukai foto itu

aku sempat mengingat sepertinya namanya tidak asing
ya, ya, ya
dulu saat zaman kuliah, aku sempat bercengkrama pendek dengannya lewat obrolan facebook
entah apa isi obrolan kami, aku lupa
mungkin dia masih mengingatnya
ya, sekitar 7 atau 8 tahun silam

dan belakangan ia mengunggah foto pernikahannya bersama seorang mempelai wanita berparas ayu yang juga beralmamater sama dengan kami

aku cuma bisa bertanya-tanya saja dalam hati
mungkin akan datang suatu kesempatan nanti
saat aku bisa benar-benar mengenalnya
sebagai teman yang nyata

Photo

Congratz, Nona DD!

Hari ini aku bahagia
Sebabnya mungkin sepele
Hanya karena hari ini pengumuman nilai hasil ujian
Setelah sebelumnya diundur 8 hari karena bertepatan dengan cuti bersama

Untuk memperoleh gelar sarjana ternyata aku harus kuliah lagi setelah lulus dengan gelar diploma
Mungkin seakan kuliah seadanya
Karena aku tak pernah pergi ke kampus
Tak pernah bertemu dengan dosen
Apalagi memiliki teman sejurusan atau sefakultas
Hanya mengandalkan koneksi internet dan salinan modul
Dan cukup aku tempuh selama satu setengah tahun saja

Senang, bahagia, seperti ada kepuasan tersendiri

Jika saja masih ada mata kuliah yang belum dinyatakan lulus, tidak memungkin buatku kalau harus mengurus kembali
Karena sekarang aku sedang berlibur menjadi wanita karir
Aku sedang sepenuhnya menjadi seorang ibu rumah tangga di desa mertua

Senyum-senyum sendiri, aku sumringah tiap kali mengingat ini
Biarkanlah jika ada orang lain menganggap hal ini remeh
Nyatanya tidak perlu menjadi seseorang yang luar biasa untuk bahagia

Terima kasih Tuhan atas karunia ini
Congratz, Nona DD!

Photo

Menjemput Impian

Aku bermimpi bertemu dengan kamu
Ya, kamu…
Masih dengan perawakanmu yang aku suka
Badanmu tampak lebih sempurna
Akibat dari aku yang perfectionist ini
Menginginkan seorang pria dengan balutan perut kotak-kotak

Dengan atmosfer yang biasa saja
Setelah percakapan kita aku rasa cukup
Aku pergi terlebih dahulu

Dan setelah beberapa langkahan kakiku
Tiba-tiba saja “brukkkk….”
Aku menoleh dan terkejut
Kau terkulai, memposisikan dirimu bertekuk lutut

Tidak biasanya kamu selemah itu

Aku berlari kecil menghampirimu
Kau sedikit menundukkan wajahmu

“Ada apa?”
“Kamu tahu aku selalu mencintaimu, pergilah bersamaku.”
“Lantas bagaimana dengan dia?”
“Dia sudah minggat bersama orang lain dan aku menaruh rasa kasihan kepadanya.”

Percakapan kita yang singkat itu
Sudah mampu meluluhkanku
Untuk pergi bersamamu

Tanpa banyak bertanya
Aku memelukmu erat
Kita akan pergi sejauh mungkin

Menjemput impian

Photo

Inspirasi Hidup

Mungkin tidak ada satu pun pencapaian hidup buatku
Aku tak pandai dalam semua mata kuliahku
Aku tak mahir dalam pekerjaanku
Aku masih saja sekular dalam angka 26 tahunku
Neraca kehidupanku juga masih belum seimbang

Karena aku teringat dengan apa yang dikatakan oleh seorang pria
Ia pernah menemaniku tenggelam dalam keindahan cinta pertama
Yang juga pada akhirnya kisah kami pun tenggelam bak kapal yang karam

“Bisa makan enak, tidur nyenyak, dan tak punya utang adalah kebahagiaan manusia yang mutlak”

Saat kita sehat, punya uang, terbebas dari beban pikiran, terlepas dari cicilan utang
adalah saat-saat yang sangat berharga

Mungkin inilah yang membuatku tidak banyak memiliki obsesi dalam hidup
Tidak ingin cemerlang dalam karir
Kuliah lanjutan seadanya
Tidak menampilkan diri dalam kesempatan apa pun

Bukan artinya hal lain menjadi tidak penting untukku
Karena bagiku semua sudah sangat cukup
Kesehatan dan karunia yang aku dapati

Dan tiga hal yang ia katakan di masa lalu
Sangat menginspirasi hidupku

Photo