Happy Birthday, My Dearest Friend

Orang yang selalu membuat gw jadi diri sendiri
Orang yang selalu menyediakan telinganya buat dengerin celotehan gw
Orang yang selalu siap kapan pun gw butuh pertolongan
Orang yang selalu sabar, capek, dan panas-panasan cuma buat nemenin gw
Orang yang selalu tulus mengorbankan apa yang bisa dia berikan buat gw

Semoga kehidupan lo dominan ya bahagianya
Dominan sehatnya
Dominan sejahteranya

Apapun itu semoga selalu diberkahi
Makin hari makin baik, terus tetap baik

Rasa sayang gw sama lo, sama seperti gw sayang sama mantan kucing gw yang telah lama hilang 🤣
Dah ah…

Ibu – Kota

Langit sepertinya memancarkan warna yang serupa, serupa saat pukul 5 sore kemarin. Kepadatan jalan dengan berbagai rupa kendaraan tidak lupa untuk turut menyertai indahnya sore itu, yah aku tetap disuguhi dengan hidangan asap serta suara bising yang kerap menghapus rasa sepi hatiku sore itu.

Menapaki trotoar, menuju tempat pemberhentian angkutan umum tua yang selalu saja menjadi teman idaman di kala kita dituntut untuk kembali ke suatu tempat yang penuh kehangatan. Rumah yang mestinya penuh dengan kehangatan.

Kini aku tidak akan lagi sendirian, aku sudah berbadan dua, Si Jabang Bayi akan selalu menemaniku pergi ke mana pun selama 9 bulan ini.

Aku merasakan betapa tidak mudahnya memiliki Si Jabang Bayi ini, menunggu selama 4 bulan itu rasanya seperti 2 tahun. Mulut manusia mulai banyak yang mencibir, tiada luput sanak saudara yang kerap mengemisi hartaku juga tidak lupa ikut mencibir.

Tuhan banyak memberikan petunjuk agar kita tidak saling menyakiti satu sama lain, tapi sepertinya banyak orang yang tidak mempedulikannya. Apalah artinya toh mereka juga hanya ‘bercanda’.

Aku bosan berbicara dengan mereka, yang hanya bisa mengkritik, mereka lupa bahwa kritik tidak cukup, kamu juga perlu menyumbangkan saran membangun bukan hanya kritik merendahkan orang!

Ah sudahlah, sepanjang jalan aku sudah cukup menghisap asap. Aku bosan mengurusi isapan jempol mereka.

Tuhan, aku tidak peduli bagaimana orang akan memperlakukanku, sakit apa yang aku rasakan, aku hanya ingin anakku kelak memiliki nasib yang jauh sangat jauh lebih baik dari aku, ibunya. Aku ingin bisa selalu ada di sampingnya sampai ia nanti menikah punya anak. Karena aku tahu, betapa berat rasanya mengandung tanpa memiliki seorang ibu.

Memperbaiki Masa Lalu

Setelah aku menikah, aku merasakan beberapa perubahan mendalam dalam diriku.
Aku tiba-tiba ingin memperbaiki hubunganku dengan semua pria yang dulu menjadikanku sebagai pemilik hatinya.

Sejenak aku tersenyum kecil, aku teringat aku di masa itu.
Bak seorang gadis yang sempurna, aku menginginkan seorang pria yang sempurna, aku menginginkan dia yang tampan, berkecukupan, memiliki kendaraan yang bisa digunakannya untuk menjemputku setiap saat, dan yang terpenting ia rela mengorbankan apapun demi diriku.

Dan ternyata,
Aku bisa mendapatkan pria seperti itu dengan mudah….

Namun sayangnya, setelah hubungan itu kandas, hubungan kami pun lenyap, kami bak dua orang yang tak pernah mengenal.

Tapi itu dulu,
Aku sangat ingin memperbaiki itu semua.

Sedikit tentang kisah cinta pertamaku di masa perkuliahan, aku menjalin hubungannya sekitar 500 hari.
Hubunganku kandas karena ia tidak tahan dengan sikapku, ia memutuskanku dan kembali kepada wanita impiannya dulu.
Sebulan setelah ia memutuskanku, aku juga kehilangan orang yang paling penting dalam hidupku, ibu.
Saat itu adalah saat-saat terburuk dalam hidupku.

Beberapa kali ia kerap menanyakan kabarku, tapi aku tidak pernah merespon. Mungkin ada perasaan kasihan terhadap diriku, atau sedikit perasaan bersalah… entahlah…

Aku sedikit berdiskusi kecil dengan suamiku, aku meminta pendapatnya. Kebetulan suamiku pernah menjadi teman sekelasnya ketika mereka tingkat 2 perkuliahan.

Aku mengetikkan sepenggalan sms yang isinya merangkum bagaimana kabarnya, bagaimana keadaan keluarganya, dan bagaimana pekerjaannya.

Dan sepertinya tidak ada respon…….

….

Ia mengabaikan smsku, mungkin ia mempertanyakan niatku.
Atau mungkin karena ia berpikir selama ia mengirimiku sms, aku juga tak pernah membalas smsnya?

Mungkin….

Aku tidak ingin membangkitkan perasaan apa-apa baik terhadapnya atau dia terhadapku.
Aku ingin apa yang pernah terjadi dulu, baik kesedihan ataupun air mata, sekarang bisa kami tertawakan bersama.
Aku ingin mengatakan bahwa aku telah memaafkannya dan aku ingin dia terlepas dari rasa bersalahnya.

Hampir

Aku mau berbicara apa tentang kemarin, aku tidak ingat, aku tidak ingat bagaimana membahagiakannya saat-saat itu, aku tidak ingat bagaimana hangatnya saat itu, aku tidak ingat bagaimana untuk menciptakan kembali perasaan itu.

Saat manusia siap untuk melangkahkan kakinya ke jenjang kehidupan berikutnya, aku yakin Tuhan tahu akan itu. Dia akan memberikanmu waktu itu, cepat atau lambat.

Tidak perlu mengukur seberapa lama kau mengenal dia, tidak perlu mengenal seberapa besar cintanya kepadamu, dan kau pun tidak perlu menunggu dia untuk membuktikan bahwa dia adalah yang terbaik untukmu. Karena semuanya ada di dalam hati, berbentuk keyakinan, bagiku itu adalah cara Tuhan untuk berbicara padaku bahwa dia orang yang tepat untukku.

Aku tidak menganggap bahwa pernikahan adalah suatu kata yang mengarah kepada makna kebahagiaan. Seorang yang menikah belum tentu ia akan bahagia hidup bersama pasangannya. Pernikahan tidak menjamin seseorang keluar dari lingkaran kesedihan.

Aku berbahagia karena Tuhan telah mempercayakanku untuk melangkah ke jenjang kehidupan yang sangat aku nantikan ini.

Testimonial Kelas E Prajab II Jakarta Eksternal

Wisma Hijau – Juli 15, 2011

1. Sering berpose ‘sensual’ tanpa sadar hehe.
2. Ga nyangka Desi cewek Betawi tulen. Habis kalo lagi diem sih anggun banget… tapi kalo dah liat logat bicaranya ya Jakarta banget deh. Maafin ya kalau aq ada salah..
3. Meskipun sering keliatan jutek dan sibuk sendiri, dalam beberapa titik pandang, mukanya kaya Asmirandah lho. Hehe
4. Cool, cantik, semoga persiapan pernikahannya lancar yaa…
5. Semangat Des!! Dunia ini indah, dan lebih indah lagi jika memandangnya dengan gembira. –Terlesu-
6. Gloomy-nya donk jangan banyak-banyak, lebih sering diliatin wajah cerahnya.
7. Untuk Desi lagu yang cocok buat kamu ‘Pura-pura Cinta – Ada Band’ Coba dengerin, kamu akan paham sendiri. Semoga cuma di lagu buat kamu, q berharap tidak jadi kenyataan.
8. Sempet nyangka kamu orangnya sombong tp ternyata ngga sama sekali. Desi itu baik, enak diajak ngomong, supel, ga nyangka udah mau nikah.. Ditunggu undangannya ya..
9. Kadang kalem, kadang rame, kadang nge-gemesin juga… Jadi mau nyubit… hahaha.. Enak lah buat diajak sharing. Keibuan sedikit…
10. Cantik, berbicara lugas, tidak banyak basa-basi, cita-cita jadi PNS kesampaian.
11. Bikin pahala terus. Bikin seneng orang yang liat. Makannya dahsyat. Kadang sisi ketukangbecakannya muncul. –Tercantik-
12. Wah..katanya mau merit ma ‘aa setelah prajab yae… (Kapan?) Terorganisis dengan baik –T’Diem-
13. Salah satu dari 3 anggota Muko’s Angels nih hehehe… karena memang selalu bareng-bareng terus. Orangnya keliatan lesu, lemah, lunglai setiap ketemu. Apa emang udah bawaannya gitu ya? Wish u all the best deh…
14. Desi, semangat dong!! Lemes banget….
15. Pasangan pertamaku, kecil-kecil makannya banyak, suka jadi juru tulis kelompok.. Makasih ya bwt semuanya.
16. Agak putih, mirip anak Jakarta, kayaknya dia anak pajak, kalau dibandingkan sama Qadri (jelas cantikan Dessi) =p Orangnya baik =) Ter-paku aku padamu, ciyeee
17. Terang, terang terus wajahnya
18. Nih anak kadang-kadang ketawanya telat, bikin gue ketawa dua kali, hahaha. Sering ngantuk, padahal katanya tidurnya banyak, apa karena makannya banyak juga kali ya? Hehe TERCAKEP (udah bosen kali ya dipuji cakep/cantik sama orang-orang)
19. Pacar temen gw.. gtw masih pacaran ato kagak. Lumayan manis…tp boong.. ha5x..
20. Pelahap. Ne org kalo uda di ruang makan, nyerah deh. Makannya bnyk, udah gitu cepet bgt kek kelinci. Pokoknya autis banget deh, hehehe
21. Des,,, gw cuman pengen ngomong 3 kata aja: “Dah mandi belom?” hahaha TERMOVIEHOLIC
22. Keliatannya cool… ga banyak omong… orangnnya santai. Terdiam.
23. Desi itu jarang banyak ngomong. “Secukupnya saja.” Tapi kalo becanda kayaknya seru juga, cuman ga semuanya bisa deketin Desi… termasuk ane :p
24. Suaru lu ngebass yak? Hehehe… Muka lo kayak sedikit agak kurang lebih mirip kucing… Hehehe.
25. Satu gengnya sama Asri sm Dwie, kemana-mana slalu ber’3, baik, asyik jg.
26. Sudah kenal dari dulu Cuma di dunia Twitter. Terasoy.
27. Lebih bersemangat di kelas! Kurangi gaya alaynya (kayak pas di meja makan yg ditegur Serma Bayu). Haha asik diajak ngomong.. Anyway thx korek kupingnya… ^_^
28. Desi,,gw suka gaya lo!! Tapi koq bisa sih kamu langsing gitu… jadi iri. Suka bgtz sama suara Desi …sexy gitu, xixixi. Well, semangat ya, Desi!!! DJP, Maju Pasti!! “Give ur best if you know how to be the winner.”
29. Baik, cantik, lucu.
30. Terautis klo lagi makan. Makan banyak, tapi badan tetep ngiri-in ah! Ora iso! PS: Yakin sama semua keputusan lo! Gw doain smga yg terbaik

Cinta adalah Kecocokan Jiwa

Kita memulai semua ini
dengan jatuh cinta,
tapi kemudian lupa bahwa
kita harus meneruskan
rasa cinta itu dalam keikhlasan
untuk memuliakan satu sama lain.

Marilah kita sadari
bahwa keindahan hidup ini
sangat bergantung kepada
keindahan suasana hati kita,
pasangan hidup kita, dan
setiap anggota keluarga kita.

Marilah kita merayakan
kasih sayang dalam keluarga kita.

Mario Teguh

Di saat para gadis ditimpa masalah percintaan mereka, mereka bisa mencurahkan berbagai kegundahan mereka kepada seorang yang akan selalu memeluknya dengan hangat, memberinya semangat, dan nasehat, ya seorang ibu.

Sementara aku, ibuku sudah meninggalkanku selama dua tahun ke belakang. Aku sangat merindukannya, sangat merindukan mama…

Aku ingin menuliskan sepintas tentang masalahku, tentang betapa seringnya air mata ini mengalir, tentang betapa sering hati ini merasa tertekan, dan yang aku tahu kini aku tidak lagi punya harga diri.

Harga diriku sudah aku jual sejak ibuku pergi. Aku menjual hidupku, cintaku, diriku, untuk mereka yang bisa membantuku bertahan hidup.
Bagiku kini hidup adalah bertahan, ya bertahan, bertahan dari segala macam hal yang membuatku ingin menyusul ibuku.

Tuhan, kau yang paling tahu bagaimana diriku…

Tuhan, mengapa kau mempertemukan aku dengannya? Entah mengapa air mataku tidak mau berhenti saat jari-jariku menulis ini semua…

Tuhan, maafkan aku karena membuatnya benci terhadapku,

Tapi, Tuhan…
Aku bosan untuk selalu menangisi orang yang tidak peduli denganku Tuhan.
Aku bosan untuk melakukan hal yang sia-sia sepanjang hidupku, Tuhan.

Aku tidak bisa terus seperti ini…
Bantu aku menemukan jodoh seumur hidupku Tuhan…

Tuhan, Kau tahu jiwa kami sangat berbeda, aku yang begitu lembut sementara ia yang begitu, ya begitulah….

Kau tahu Tuhan, bantu aku menemukan cintaku…

Cinta adalah kecocokan jiwa.

Arti Hidup Lebih dari Itu

Terbiasa hidup untuk diri sendiri, terbiasa untuk menatap kesendirian sebagai suatu bagian dari diri. Semuanya bagai membisu karena aku terlalu biasa dengan sepi, hening, ketidakberdayaan seorang makhluk tanpa adanya teman bicara.

Aku ingat seseorang menganggap bahwa hal yang aku miliki adalah suatu keunikan. Ia sedikit terkejut dengan kepribadianku sebagai wanita yang begitu terbiasa kesepian.

Aku menolak semua yang datang untuk menawarkan obat pengobat sepiku. Aku menolak semua yang datang untuk menjadi teman bicaraku. Aku menolak untuk keluar dari keheningan ini.

Aku diberikan hidup hanya satu kesempatan. Aku ingin menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.
Bagiku kini hidup bukan sekedar memiliki banyak teman di sana-sini, bukan sekadar tiap hari memiliki acara dengan semua kerabat, bukan sekadar bertukar pikiran tentang suatu hal. Arti hidup jauh lebih dari itu.

Aku tidak pernah menyukai kesepian, keheningan. Aku tidak pernah menyukai itu. Aku hanya mencoba untuk terbiasa untuk tidak berharap terhadap apa pun juga. Aku akan menjadi diriku sendiri.

Kasih sayang, aku jauh akan itu. Orang-orang yang mengasihiku hanya bisa memberikannya saat mereka sudah lupa untuk mengurus kesenangannya sendiri. Tapi kapan manusia lupa untuk mengurus kesenangannya sendiri.. tidak pernah.

Aku berusaha untuk hidup menjadi sosok yang tidak pernah mengeluhkan kesakitanku kepada orang lain. Karena hal itu hanya percuma, takkan berguna.

Ku berjuang dalam hidupku untuk berusaha bahagia dalam duniaku ini. Aku hanya ingin Tuhan memberikan kebahagiaan kepada mereka yang pernah mencoba untuk menyayangiku. Aku ingin mereka tidak pernah merasakan sepi, sendiri. Inilah arti hidup untukku.

Selamat Ulang Tahun Abi

Setu Babakan, 17 November 2010

Wah, abi telah berusia 21 tahun sekarang. Usia di mana seorang manusia sudah benar-benar matang. SweeTwentyOne ….

Abi harus bersyukur karena abi telah diberi kesempatan hidup oleh Allah sampai 21 tahun ini. Pasti banyak yang telah abi dapat selama 21 tahun ini bukan? Salah satunya adalah bertemu dengan umi, 

Walaupun hari ini abi nggak ada di samping umi, tetapi umi tetap senang karena abi mau maafin umi yang telah ngerjain abi selama seminggu ini. Maafin umi ya abi telah mutusin abi seminggu yang lalu, Vpeace. Umi cuma mau kasih surprise aja kok agar abi selalu ingat ultah abi yang ke-21 ini. :p

Ya Allah, semoga kau baca artikel ini. Aku berdoa semoga ia selalu menjadi hamba-Mu yang beriman dan bertakwa, semoga orang-orang di sekelilingnya selalu mencintainya, semoga hidupnya selalu diiringi dengan tawa dan senyuman di tiap harinya. Dan untuk aku dan dirinya, semoga kami diberikan kesabaran untuk mempertahankan hubungan kami sampai di saat Kau menjawab semua tanda tanya kami.

Amin.

Cintamu,

Umi

Petikan Ilmu dari Sepanjang Jalan Kenangan ke Ancol

Sudah lama juga, aku tidak mengisi blogku tercinta dengan tulisanku. Belakangan aku hanya membrowsing artikel yang sekiranya aku suka dan mengopi serta menempelnya di tulisan baru.

Hari ini aku ingin sedikit bercerita tentang pengalamanku pergi ke Taman Impian Jaya Ancol bersama pacarku tercinta.

Kalau tidak salah ingat, kami pergi ke sana hari Selasa, tanggal 3 November 2010, berangkat dari rumahku di Setu Babakan, Jakarta Selatan sekitar pukul 10.30 pagi.

Aku mempersiapkan bekal yang akan dimakan di sana, aku memenuhi tempat makan dengan nasi putih beserta rendang Padang. Kami juga kebetulan tidak bawa air minum, karena tidak ada tempat air minum di rumahku. Menyimpan botol plastik bekas air mineral pun tidak baik, karena botol plastik air mineral hanya boleh digunakan sekalai, berikutnya apabila dipaksa kita pakai akan mengancam diri kita dengan penyakit yang berbahaya dan mematikan alias kanker.

Perjalanan menuju Ancol dari rumahku sepertinya cukup mudah kalau aku perhatikan dari peta jalur busway yang aku punya. Ditambah lagi pacarku yang begitu buta dengan jalan di Jakarta, tentunya hanya aku yang diandalkan sebagai petunjuk jalannya. Kadang hal ini membuautku takut, aku takut menunjukkan jalan yang salah dan mengakibatkan kami tersesat, tapi setelah aku pikir-pikir tidak ada salahnya aku mulai menghafal jalan yang ada di Jakarta, karena aku lahir dan besar di sini. Sudah hampir 21 tahun aku merasakan indahnya ibukota ini, inilah saatnya aku lebih mengenal kota Jakarta.

Aku harus mengenakan kacamata dengan lensa setebal kaca jendela rumahku, ya tentu saja minusku melebihi 5, mengerikan. Aku harus berusaha menatap papan jalan dengan seksama, ingat menatap bukan melihat.

“Ada kalanya kita sering melihat sesuatu tapi kita tidak sadar akan hal itu, karena kita tidak benar-benar melihatnya (menatap).”

Pertama-tama hal yang paling berkesan adalah saat kami melewati Jalan Raya Pasar Minggu, tak pernah aku membayangkan Jakarta di saat pukul 11 pun macetnya bukan main, ditambah lagi terik matahari yang terus menempel pada kami. Aku mencoba memperhatikan keadaan sekeliling di sini, ada banyak yang bisa aku pelajari dari sini. Para penjual kudapan asongan (seperti rokok, permen, mangga muda, anggur, jeruk bali yang dipilah menjadi bagian kecil) tempat seperti lampu merah TMP Kalibata adalah lahan pekerjaan mereka. Betapa beruntungnya kita bisa hidup jau lebih baik dari mereka. Aku juga memperhatikan betapa bersabarnya mereka menyinggapi satu per satu kopaja untuk menjajakan dagangan mereka.

“Sungguh ironis sekali kalau kita hanya memaki-maki keadaan di saat macet atau sekadar mengeluhkan kemacetan Jakarta.”

Jalan berikutnya yang membawa kesan adalah saat kami melewati Pasar Jatinegara. DI sini semua kendaraan terlihat seperti antrian pengambilan sembako yang tak pernah kunjung habis. Ya Tuhan, betapa teriknya matahari saat di atas kepala kami. Apa yang akan terjadi saat kami berada di Padang Mashyar dan matahari hanya sejengkal dia atas kepala kami? Bukan main, kami sangat menikmati polusi dan panas serta kemacetan sebagai penguji kesabaran. Jalur busway yang diprogramkan akan mengurangi kemacetan justru hanya membuat para pengguna jalan lebih bayak lagi melanggar rambu lalu lintas. Kopaja, taksi, bahkan mobil pribadi menerobos jalur busway karena terlampau penat dengan ujian kesabaran itu. Apa yang salah dengan fasilitas ini? Apa pemda DKI Jakarta sudah memikirkan masak-masak saat menjalankan program ini? Hanya Tuhan yang tahu…..

Pemandangan kemacetan kami rasakan hingga Mangga Dua. Oh Tuhan, inilah yang terjadi selama ini di Jakarta, dan aku baru menydari belakangan ini? Selama ini aku hanya beruntung, tinggal di Jakarta pinggiran yang masih asri jauh dari polusi.

Sekitar 2 jam akhirnya kami sampai di Ancol, kami terkejut dengan perubahan yang terjadi dengan pergelangan tangan pacarku. Pergelangan tangannya menghitam, sangat menghitam. Sementara aku juga tapi tidak sehitam dia.

Aku jadi punya tips untuk para bule yang ingin menghitamkan badannya. Mereka tidak perlu lagi harus bertelanjang di pantai Kute Bali berjemur matahari selama berhari-hari (dengan resiko adanya teroris di sana-sini yang siap siaga mengebom mereka), mereka cukup berkendara motor dari Jakarta Selatan-Jakarta Utara tanpa mengenakan busana. Hahaha …

Dan saat kami pulang pukul 17.00, kami juga dihadapkan dengan ujian yang sama, bahkan kami pun ikut menerobos jalur busway seperti yang lain, hahaha…

“Hidup itu harus berwarna, jangan hanya hitam putih saja.”

Kalau Saya : “Tidak.”

Ilustrasi:

Sepenggalan dialog antara ayah dan putranya di dalam Legion (2010)

Putera: “Kutahu ini tidak masuk akal bagimu. Terkadang juga tidak masuk akal bagiku. Aku telah mengalami mimpi tentang dia. Beberapa begitu buruk… Hingga aku tak ingin pernah tidur lagi. Aku tidak bisa menjelaskannya, ayah.”

Ayah: “Aku hanya rasa ini yang harus kulakukan. Kau tahu ibumu pikir aku gila. Karena mau beli tempat ini. Semuanya di sini, di tempat tak dikenal, Tapi aku tahu ini yang harus kulakukan. Aku tidak bisa menjelaskannya juga. Sepertimu. Aku beritahu ibumu: “Percayalah padaku” “Kau hanya tunggu dan lihat, saat mereka bangun mal besar, dengan superstore seperti yang sudah direncanakan selama bertahun-tahun, tempat ini akan jadi tambang emas. ” Masalahnya adalah: aku salah. Mereka pergi dan dirikan bangunan di distrik lain dan aku terlihat sangat bodoh. Dan kulihat kau buat kesalahan bodoh sama seperti yang kubuat. Percaya sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Waktunya bagimu tinggalkan tempat ini. Aku tidak mau lihat kau bangun suatu hari tua dan kesal, menyadari kau tersesat, sama seperti orang lain yang berhenti di sini. Teruskan. Perbaiki mobilnya. Aku ingin semua orang pergi dari sini malam ini.”

Hey wanita di luar sana,

Kalian masih percaya dengan pangeran berkuda putih yang akan datang menjemput kalian?
KAlian masih percaya ada pria tampan seperti di drama jepang atau drama korea yang akan membahagiakan kalian?
Kalian masih percaya masih ada sosok seperti Azam di Ketika Cinta Bertasbih yang seakan-akan begitu sabar menghadapi dunia?

Aku tidak

Aku tidak bisa mempercayai sesuatu yang nyata-nyata tak akan berubah sampai kapan pun…