Mencintai itu Perkara Mudah

Mengingat-ingat waktu di mana pertama kali
Kau mendaratkan bibirmu di bibirku
Sayangnya, aku gagal mengingatnya
Sama seperti kegagalanmu untuk mempertahankan agar aku selalu mendampingimu

Aku tidak akan pernah lupa bagaimana raut wajahmu
Raut wajah ketika kau menjelaskan sesuatu dengan sejujur-jujurnya
Raut wajah ketika kau mengkhawatirkanku secemas-cemasnya
Raut wajah ketika kau dan aku bertengkar masalah sepele sehingga terjadi tragedi payung terbang

Mencintai bukan perkara yang sulit bagiku
Aku mencintaimu sejak dulu, sekarang, dan sampai kapan pun
Walau aku tahu, kisah yang kita rajut hanya hitungan tahun
Bukan puluhan tahun seperti kebanyakan film romantis di bioskop

Ilusi

Sudah lama diriku berjibaku dengan ilusi
Ilusi yang penuh kehampaan dan ketidakbahagiaan
Aku pikir hati ini tidak akan pernah terkait kembali

Melodi-melodi itu mulai berputar
Melodi-melodi yang menjadi saksi betapa bahagia kehidupan itu
Aku mulai bisa merasakan ada getaran kebahagiaan itu kembali
Membuatku merasa berada sangat dekat denganmu
Dan tanpa sadar senyum termanis terukir di wajahku

Memang banyak hal yang sudah berubah
Tapi kenangan-kenangan ini akan tetap kekal
Walau membuahkan rindu yang tidak akan pernah terbalaskan

Aku kehilangan,
Sedang aku tidak pernah memiliki

memang cinta tidak pernah membosankan

aku berharap kau di sana
juga mendengarkan lagu yang sama
yang membuat aku ingin memutarnya berulang kali

karena saat mendengar lagu ini
membuatku merasa sedang bersamamu
membuatku merasa bisa melihat senyummu
membuatku merasa bisa mendengar tawamu
membuatku merasa bisa merasakan kehangatan atmosfer yang selalu mengelilingi saat kita bersama

aku menutup mata
menarik nafas terdalam
mensyukuri kenangan yang telah banyak terukir
kenangan yang selalu bermakna

dan apakah kau tahu?
aku tidak pernah bosan mengenangmu
karena seharusnya

Makna Sebuah Titipan

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan

Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

(WS Rendra)

Dunia Cinta

Adakah waktumu
Aku ingin menanyakan sesuatu
Tak ada lagi pertanyaan ambigu
Apalagi jawaban pilu

Yah, lagi-lagi tentang cinta

Cinta
Cinta Cinta
Cinta Cinta Cinta

Aku ingin berperan sebagai Cinta
Ia yang seolah-olah sangat sempurna
Dalam film terpolpuler remaja
Penggebrak layar lebar Indonesia

Ia sangat cantik
Menarik
Membuat para pria tergelitik
Ada pula 4 sahabat karib

Aku tak lagi ingin berperan sebagai Cinta
Tapi aku sangat ingin menjadi Cinta
Tak tahu apa ada cara
Untuk aku pergi ke sana

Ke dunia milik Cinta