aku berharap kau di sana
juga mendengarkan lagu yang sama
yang membuat aku ingin memutarnya berulang kali

karena saat mendengar lagu ini
membuatku merasa sedang bersamamu
membuatku merasa bisa melihat senyummu
membuatku merasa bisa mendengar tawamu
membuatku merasa bisa merasakan kehangatan atmosfer yang selalu mengelilingi saat kita bersama

aku menutup mata
menarik nafas terdalam
mensyukuri kenangan yang telah banyak terukir
kenangan yang selalu bermakna

dan apakah kau tahu?
aku tidak pernah bosan mengenangmu
karena seharusnya memang cinta tidak pernah membosankan

Jalan yang Tersesat

Jalan yang Tersesat

Bisakah kau menikmati saat kau tidak menemukan jalan yang benar?
Jalan yang seharusnya kau lalui untuk segera sampai kepada tujuanmu
Namun kau malah menapaki jalan yang keliru
Waktumu banyak terbuang percuma
Membuat mood berantakan

Detik-detik yang berjalan lambat
Pemandangan kendaraan-kendaraan yang padat merayap
Bunyi klakson yang saling bersahutan
Freon pendingin tidak mampu meredakan panasnya hati manusia

Kau tidak akan mampu menikmati waktu tersesatmu
Kecuali …

Dan saat aku tersesat bersamanya,
Aku tidak perlu bergelut dengan amarah
Aku tidak perlu menata mood yang berantakan
Aku tidak perlu menyesal membuang waktuku

Akan kususuri jalan mana pun
Jalan yang bahkan tidak pernah kukenali
Karena bersamanya selalu membuatku sempurna

Photo

Sudah lama diriku berjibaku dengan ilusi
Ilusi yang penuh kehampaan dan ketidakbahagiaan
Aku pikir hati ini tidak akan pernah terkait kembali

Melodi-melodi itu mulai berputar
Melodi-melodi yang menjadi saksi betapa bahagia kehidupan itu
Aku mulai bisa merasakan ada getaran kebahagiaan itu kembali
Membuatku merasa berada sangat dekat denganmu
Dan tanpa sadar senyum termanis terukir di wajahku

Memang banyak hal yang sudah berubah
Tapi kenangan-kenangan ini akan tetap kekal
Walau membuahkan rindu yang tidak akan pernah terbalaskan

Aku kehilangan,
Sedang aku tidak pernah memiliki

Photo

Sampai saat ini
Sudah beberapa kali ia menemui alasan agar air matanya dapat menetes
Namun beberapa kali itu juga ia gagal meneteskan air mata
Ia tak tahu mengapa air mata itu memilih bersarang di kelenjar air matanya
Mungkin di sana adalah tempat yang nyaman untuk bersembunyi

Bukan lagi karena ketidakbahagiaan orang-orang yang ia cintai
Bukan karena alasan bahwa ia tidak bertemu dengan kebenaran
Bukan karena harga diri yang tersayat karena sesuatu yang tidak ia lakukan
Bukan karena rasa yang harus dipendam karena alasan lain yang lebih penting
Tetapi karena keempat hal tersebut sudah ia pendam ratusan hari lamanya

Pada akhirnya air matanya menetes, mengalir
Pada akhirnya ia memilih malam hari
Malam yang tanpa bulan
Malam yang tanpa bintang
Malam yang tanpa kehangatan
Malam yang tanpa senyuman
Malam yang hanya gelap dan penuh kesendirian

Walau tangis senantiasa membawa kesedihan
Namun setelah ini, mungkin tak akan ada lagi seorang dia yang selalu berpura-pura menjadi kuat
karena kesendiriannya menguatkannya

Sahabatku

Salah satu sahabatku yang tidak mau disebut dirinya sebagai sahabatku bercerita
Awalnya aku bingung, aku curiga sepertinya sahabatku ini sedang labil,
Tapi setelah 9 tahun peristiwa itu berlalu
Aku paham, saat itu dia sedang tidak labil, dia konsisten hingga saat ini

Dia selalu saja menolak setiap kali aku menyebutnya sebagai ‘sahabatku’
Karena ia khawatir aku akan menyakitinya seperti sahabatnya dahulu
Saat mereka sedang berselisih paham, sahabatnya sering sekali berkata kasar
Tak jarang Si Sahabatnya ini menyuruhnya untuk pergi jauh dari hidupnya
Ditambah lagi Si Sahabatnya ini sering mengatakan persahabatan mereka telah usai
Dan sekarang aku dan sahabatku ini tetap berteman baik, dan sahabatku dengan sahabatnya yang dulu itu sudah tidak berkomunikasi dalam jangka waktu yang lama

Sepele…
Cerita yang pada awalnya aku tidak paham maknanya.

Namun sekarang, aku paham
Persahabatan itu layaknya bukan sebatas kata
Bukan sekedar emosi tak terbendung lalu berkesudahan
Persahabatan itu bukan dengan tekanan
Seharusnya persahabatan itu memahami satu sama lain
Ada saatnya menjadi pendengar, ada saatnya menjadi penasehat yang baik, selalu menjadi kepercayaan
Bukan hanya selalu egosentris
Apa-apa harus didengar, apa-apa harus dituruti
Persahabatan itu melengkapi
Peran apa yang tidak ada, cepat dan tanggap  menggambil andil
Jika persahabatan sudah dipenuhi hal-hal di atas, persahabatan akan selalu membuat nyaman semua pihak, membahagiakan dan menyenangkan

Beberapa langkah lagi sahabatku akan menemukan sosok yang selama ini diinanti-nantikannya
Dalam setiap doaku selalu kusebut agar kamu selalu berbahagia

Photo

Mas Pur

Mas Pur…

Well, udah beberapa kali terakhir gw banyak ngobrol sama Mas Pur.
Mas Pur, dari caranya bicara, gw yakin dia orang jujur, hatinya bersih, polos banget.
Banyak cerita, tentang pengalaman dia kerja, tentang keluarganya, bagaimana dia bertahan hidup di Jakarta, apa aja yang udah dia berikan buat keluarganya.

Sebenarnya dia langganan gw waktu rumah gw masih di Pejaten Timur, dan setelah gw pindah ke Condet, gw tetap masih sering ke Mas Pur.
Setelah gw pindah kantor 1.5 bulan ini, gw udah ga pernah lagi ke tokonya.
Biasanya kalau gw mau datang, gw kirim SMS dulu ke dia, dan Mas Pur selalu respon SMS gw.

Seminggu yang lalu, gw SMS Mas Pur.
Nanya apa tokonya udah buka apa belum.
Beberapa kali terakhir gw lewat, emang tutup sih.
Takutnya dia pulang kampung.
Karena dia sempat cerita kalau mau pulang waktunya ga pasti, sekepinginnya aja.
Terus seharian SMS gw belum dibalas juga.
Ya udah, gw tetap ke sana.

Sampai di sana, gw rada kaget, kok tokonya udah agak dirombak, biasanya itu tokonya cuma diskat, di bagian belakang mesin dikasih triplek, agar ada ruang buat tempat tidur dia sama TV. Sekarang tripleknya dicopot.
Dan gw gak lihat Mas Pur di situ, cuma ada Mas-mas muda 2 orang.

“Mas Pur, kemana ya?”
“Udah ganti orang, Mbak.”
Karena kegok dan campur gak enak, ya udah gw kasih 2 helai pakaian buat divermak.
Padahal yang mau divermak 6 helai.
Khawatir gak memuaskan kerja orang baru ini.

Gw ambil hari besoknya itu pakaian yang divermak. Tanpa nanya-nanya karena gw lihat sorot mata itu tukang vermak baru lagi kurang bagus. (Gw rada lumayan dalam meng-analisis emosi manusia)

Ah, gw kirim SMS lagi aja ke Mas Pur, “Mas Pur, barusan saya ke toko vermaknya Mas Pur kok sekarang udah ganti orang? Mas Pur pindah ke mana?”

Dan, ga dibalas lagi sodara-sodara….

Terus gw cuma bertanya-tanya sendiri…nyimpulin sendiri.

“Perasaan gw, kemarin Mas Pur bilang kalau ngerenov rumahnya di kampung nyicil, satu per satu ruangan, apa udah selesai terus sekarang dia kerja di kampung?”

“Apa dia jadi karyawan orang ya? Dulu dia sempet kerja ikut orang.”

“Mungkin udah pindah ya karena sewa tokonya mahal. Ke tempat yang lebih murah tapi rame.”

“Apa ribut sama konsumen ya..”

“Jangan-jangan kelilit hutang sama orang terus kabur tanpa jejak.”

OMG, serius pake banget, gw bingung campur kesel campur sedih.

Karena emang hobi gw belanja baju online dan sering ga pas ukurannya, jadi gw butuh banget jasa dia.
Gw bukan tipe yang suka belanja di swalayan, nyobain itu satu-satu baju.
Males banget gw ke mall kalau cuma buat nyari baju. Apalagi pake minta anter orang.
Mending gw wisata kuliner, dapet hal baru buat direkomendasiin ke orang plus perut kenyang.

Dan ini kedua kalinya gw kehilangan tukang jahit gw.
Tukang jahit yang sebelumnya emang rada kurang baik, celana baru banget belum pernah gw pake, ikutan kebawa dia karena dia kabur ga mau bayar sewa tokonya. Dan banyak komplain lain dari para korban sependeritaan.

Lalu gw balik lagi ke Toko Jahit Mas Pur dengan menemui Mas-mas muda itu.
“Mas, ngecilin ini bisa?”
“Bisa tapi ambil besok sore ya?”
“No. HP ada Mas biar bisa ngabarin saya kalau sudah kelar.”
“Oh ya udah, no Mbak aja saya misscall.”
“Nama Mas siapa?
“Jamal.”
“Mbak siapa?”
“Desi.”

Dua hari kemudian gw baru ambil.

“Sampean keponakannya Mas Pur opo?”
“Nggak Mbak, tapi emang kata orang mirip.”
“Terus sampean kenal Mas Pur di mana?”
“Ya namanya tukang jahit, kenal-kenal gitu aja.”
“Mas Pur, sakit?”
“Ya katanya masuk angin, Mbak. Angin duduk kata orang.”
“Terus Mas Pur? Udah meninggal?”
(Jamal mengangguk)

Jawaban terakhir gw reflek karena ingat angin duduk menjadi penyebab beberapa kematian.
Gw sedih banget dan masih berkabung sampai sekarang.
Masih terekam jelas tiap kali gw turun dari motor sampai di depan tokonya, dia senyum sumringah.
Besar banget harapan dia biar anaknya kelak bisa kuliah kayak gw, di tempat yang ga menguras banyak biaya dan langsung dapat kerja tanpa repot melamar ke sana-sini.
Banyak pelajaran yang gw dapat dari Mas Pur Dia yang gak pernah kenal dengan sosok ayahnya tetap selalu sabar, lalu sanggup berjauhan dengan istri dan anaknya demi mencari nafkah. Gw juga belajar dari dia berapa pun penghasilan yang kita terima, kita wajib bersyukur.

Innalillahi wa innaillaihi roji’un,
Semoga almarhum Mas Pur khusnul khotimah, diampuni dosanya dan semua amal ibadahnya diterima Allah, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran serta ketabahan. Aamiin.

Photo

End Of Comfort Zone

Entah butuh waktu berapa lama untuk menepis kesedihan
Nyatanya aku memang mulai jenuh di kantor lamaku
Lalu Tuhan mengabulkan doaku
Aku dipindahtugaskan ke kantor lain
Aku berharap tidak ada air mata
Namun ternyata aku tidak bisa membohongi diriku sendiri
Aku mulai sadar
Terlalu banyak kenyamanan yang akan aku tinggalkan
Rekan-rekan sejawat yang ramah-ramah
Tenaga honorer yang baik-baik
Mejaku yang penuh dengan barang kebutuhanku
Ruang laktasi hadiah dari bos besarku dulu
Semua kebaikan yang terkandung di dalamnya

Di kantor baruku
Aku tidak akan bisa memakai helm mulai turun dari motor sampai ke toilet wanita
Wastafel toiletnya kecil, mungkin kosmetiku saja tidak cukup
Mungkin aku belum bisa bawa bekal makan ke kantor
Khawatir aku belum dapat meja kerja pribadi
Aku juga tidak bisa pakai ranselku yang super besar, karena setelah ini aku akan jadi pelanggan setia commuterline

Tuhan,
Apa dengan keluar dari zona nyaman akan meningkatkan kualitas dari diriku?
Aku berharap masa adaptasi selama 3 bulan ke depan akan lancar dan menyenangkan
Aku yakin, saat kita kehilangan sesuatu yang baik, kita akan mendapat hal yang jauh lebih baik lagi

Photo

Bahagia

Ini sebuah kisah tentang seorang pria
Yang banyak dalam diamnya, berdoa
Yang banyak dalam sepinya, menikmati kehidupannya
Yang dalam lamunannya, mulai terlintas seorang wanita

Seorang wanita yang akan ikut mewarnai kanvas yang ia punya
Karena tanpa sadar, mereka melukis kanvas bersama, yang nantinya kan menghasilkan sebuah fenomena

Hubungan mereka sangat istimewa tapi tak berdefinisi
Lalu saat sang nalar mulai tidak berfungsi
Sang pria mulai mencoba melakukan hal-hal di luar kendali

Sang pria yang dengan mudah menaklukan wanita
Padahal sang pria ini hanya bermodal adanya apa

Ia mulai terlepas dari lajurnya
Bertingkah bak anak sekolah menengah yang baru jatuh cinta
Menuliskan puisi, menciptakan lagu, membawakan cokelat,
dan akhirnya ia sanggup membelikan sebuah cincin untuk sang wanita

Mencintai itu seharusnya membawa kebahagiaan, bukan?

Kamu bahagia?

Bahagia.

Photo