Sahabatku

Salah satu sahabatku yang tidak mau disebut dirinya sebagai sahabatku bercerita
Awalnya aku bingung, aku curiga sepertinya sahabatku ini sedang labil,
Tapi setelah 9 tahun peristiwa itu berlalu
Aku paham, saat itu dia sedang tidak labil, dia konsisten hingga saat ini

Dia selalu saja menolak setiap kali aku menyebutnya sebagai ‘sahabatku’
Karena ia khawatir aku akan menyakitinya seperti sahabatnya dahulu
Saat mereka sedang berselisih paham, sahabatnya sering sekali berkata kasar
Tak jarang Si Sahabatnya ini menyuruhnya untuk pergi jauh dari hidupnya
Ditambah lagi Si Sahabatnya ini sering mengatakan persahabatan mereka telah usai
Dan sekarang aku dan sahabatku ini tetap berteman baik, dan sahabatku dengan sahabatnya yang dulu itu sudah tidak berkomunikasi dalam jangka waktu yang lama

Sepele…
Cerita yang pada awalnya aku tidak paham maknanya.

Namun sekarang, aku paham
Persahabatan itu layaknya bukan sebatas kata
Bukan sekedar emosi tak terbendung lalu berkesudahan
Persahabatan itu bukan dengan tekanan
Seharusnya persahabatan itu memahami satu sama lain
Ada saatnya menjadi pendengar, ada saatnya menjadi penasehat yang baik, selalu menjadi kepercayaan
Bukan hanya selalu egosentris
Apa-apa harus didengar, apa-apa harus dituruti
Persahabatan itu melengkapi
Peran apa yang tidak ada, cepat dan tanggap  menggambil andil
Jika persahabatan sudah dipenuhi hal-hal di atas, persahabatan akan selalu membuat nyaman semua pihak, membahagiakan dan menyenangkan

Beberapa langkah lagi sahabatku akan menemukan sosok yang selama ini diinanti-nantikannya
Dalam setiap doaku selalu kusebut agar kamu selalu berbahagia

Photo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *